Archive for the 'travel' Category

Berlari ke Bali

August 16, 2009

Tadinya mau dijudulin “Escape to Bali”, tapi harus mengIndonesia soalnya lagi 17 Agustusan (?!).

Setelah berbagai peringatan flu babi dan ancaman bom, dengan modal kenekatan akhirnya gw memutuskan untuk tetap pergi ke Bali… sendiri. Semuanya berawal dari modal “yang penting gw lari!”. Gw udah ga pake mikir gimana nanti jalan – jalan di Bali, pake mobil atau kendaraan apa dan sama siapa. Pokoknya go show!

Tapi entah mengapa, pelarian gw ini seakan sangat di-ridhoi. Beberapa hari sebelum pergi gw mengirim pesan ke temen (se-SMP & SMA) gw yang kerja di Bali buat minta info atau tebengan, dan dapet. Pada minggu yang sama, sedang ada kongres IPSF yang diadakan oleh junior – junior himpunan gw dan dulu pernah gw aktif hadir saat diselenggarakan di negara lain. Salah seorang teman yang pernah mengetuai organisasi internasional ini, mengajak gw untuk ikut hadir saat weekend. Okei, gw semakin punya tujuan. Yang paling kewl (cool) adalah, sehari sebelum berangkat gw nelepon uwa gw, minta petuah (itinerary) perjalanan di Bali. Uwa gw ini adalah seorang dosen tours and travel di sekolah pariwisata bergengsi di Bandung (cie, bergengsi bo) yang sudah terlalu sering ke Bali. Setelah dibuatkan rencana perjalanan, ternyata beliau dengan inisiatifnya menghubungi seseorang yang dikenal dan mendapatkan sebuah travel yang siap mengantar gw ke mana saja selama hampir 3 hari (thanks to Pegasus travel-Bali, please ask me for contact information :P ).  Jalur konvensional Bali pun gw lalui pada tour days tersebut dengan fasilitas private tour, alias cuma gw sendiri dapet mobil,supir dan bonus guide, sadis, haha.

Hampir setiap sore harinya, gw melakukan perjalanan sendiri dan mencari spot khusus untuk menikmati sunset di sebuah pantai. Terlihat agak menyedihkan tapi gw merasa sangat puas, menikmati waktu gw untuk diri gw sendiri dan “kesendirian” gw.

Pada minggu yang sama itu pula gw bertemu sahabat kuliah gw, yang kebetulan sedang bertugas ke Bali. Wow, indahnya suatu takdir :) Weekend gw di kongres IPSF juga terbilang sangat menyenangkan, bertemu beberapa teman lama dari penjuru negara, bertemu dosen – dosen (finally, haha), adik – adik kelas dan banyak kenalan baru tentunya.

Liburan gw di Bali pun ditutup dengan indah dan rasa tak ingin pulang. Di hari terakhir, gw pergi ke Teluk Benoa buat water sport, sendiri (tentu saja). Digodain dan dikasih nomor telepon mas-mas staf berkulit super hitam pun menjadi konsumsi gw hari itu, haha. Hari yang sangat SERU! Gw pulang ke Bandung pun tak sendiri lagi, tapi bersama 3 orang dosen dan rasanya hari itu banyak sekali obrolan seru dengan beliau – beliau.

Perjalanan ke Bali tanpa partner perjalanan ini memberi banyak kebebasan buat gw untuk mengerjakan apa aja yang gw mau, itulah esensi dari berjalan – jalan sendirian!

Banyak sekali orang yang harus gw beri ucapan terima kasih karena telah membuat Bali-time gw begiu indah. Orang tua, Uwa (walau sedang kurang sehat tapi tetap memikirkan liburan seorang wanita labil seperti gw), Intan (untuk smp sma kita sama ;) ), bung E dan B dari travel (semoga semakin sukseess & bakalan gw iklanin deh), Tir, Au & para junior panitia kongres. Gyaaah kayak penghargaan apa aja nih, tapi seriously gw ngerasa liburan ini sangat berkesan dan banyak banget orang yang mewujudkan keterkesanan ini (ihiy).

Gw setuju dengan apa yang Elizabeth Gilbert bilang dalam bukunya: Eat, Pray and Love… Bali memang tempat yang sempurna untuk orang – orang yang butuh pelarian. Hahaha.

Seat belt and mobile phone

August 11, 2009

Kalau gak salah, teman gw yang rajin pelesiran ini pernah menulis tentang kekesalan serupa, tapi sayang gw belum nemu postingannya. Yup, tentang ketidaktertiban penumpang pesawat akan himbauan dilarang melepas sabuk pengaman dan menyalakan handphone sebelum pesawat benar – benar berenti dan lampu tanda sabuk pengaman dimatikan. At least ini yang gw rasakan saat melakukan penerbangan yang isinya mayoritas orang Indonesia. Saat pesawat mendarat, langsung terdengar bunyi beratus-ratus ‘klik’ secara serempak tanda dilepaskannya sabuk pengaman. Ditambah juga dengan serangkaian bunyi nada dinyalakannya handphone, terutama bunyi Nokia yang begitu familiar dan sekarang bunyi BlackBerry. Ganggu banget.

Di penerbangan dari Bali kemaren, si pramugari sampai keliling buat mengingatkan penumpang untuk tetap mematikan handphone. Dan manusia sipit di sebelah gw yang sudah asik chatting dengan BBnya buru-buru ngumpetin (bukan matiin) BBnya, dan melanjutkan chatting setelah si pramugari lewat. Dan di sebelahnya, ibu2 sipit juga, tetep BB-an dengan semangat. Oh tolonglah, mbak pramugari udah menjelaskan juga kalau handphone menyala tentu saja akan mengganggu arus komunikasi si pilot dengan menara utama. Ah gw yakin kalau terjadi apa2, pasti duo manusia bodoh di sebelah gw ini akan meyalahkan maskapai, bukan diri mereka sendiri.

Mungkin di negara lain -yang agak bodoh- juga begitu ya? Tapi yang pasti, yang gw alami di negara lain ga pernah separah ini, hehehe.

Delft-Venlo-Dusseldorf-Frankfurt-Dubai-Jakarta

July 17, 2009

Panjang memang rutenya untuk nyampe Indonesia saat summer ini, demi harga tiket murah :D

Dini hari, 3.30 gw baru aja tidur dan harus bangun jam 4.30 demi pergi jam 5.30. Rencana jalan kaki ke stasiun pun batal, gw baru bangun jam 4.50, mandi kilat, beres2 kilat dan waktu ngangkat koper: beraaat! Akhirnya gw memutuskan berangkat jam 6 pake trem, konsekuensinya adalah terburu-buru di salah satu tempat transit. Teman-teman gw yg berniat mengantar pun tak bangun, mau bangunin juga ga tega.. akhirnya gw berangkat sendiri ke halte trem, menggeret koper, ditemani hujaaaaan.. iyess.. hujan di tengah summer.. dramatis.

Perjalanan ke Venlo (kota perbatasan Jerman-Belanda) hanya ditemani perasaan tak ingin pulang dan ngantuk, tentu saja gw tidur sepanjang jalan. Bodohnya, gw lupa mencatat di Jerman bagian mana gw harus ganti kereta. Untung berhasil nanya sama pak pemeriksa karcis yang ogah berbahasa Inggris. Di kereta menuju Frankfurt, gw satu kompartemen dengan 2 bocah Indonesia yang ternyata sekolah di Belanda juga, sayangnya kita ga akan satu pesawat, bener – bener pulang sendiri deh.

Berenti di Dubai yang konon katanya bagus, bikin penasaran, tapi sayang udah jam 12 malem waktu setempat, ga bisa liat keluar. Kalau kata nyokap, di Dubai banyak emas. Benar.. gw menemukan banyak mas.. mas – mas aseli Indonesia tepatnya, hehe.

Oya, gw puas sekali dengan penerbangan Emirates. Makanan enak, fasilitas oke, walau petugas di bandara sangat tidak ramah. Dimaklumi, petugas bandara Jerman :P

Akhirnya sampai di JKT, harus isi ini-itu sebagai kelengkapan buat skrining massal Flu Babi. Jakarta panassss. Haha, belagu sekali.

Tapi gw senang, walau sempat tak mau pulang, akhirnya pulang, untuk beberapa lama :)

Hepi liburaaaaaaaaaaan!!!!

Bukan lagi Chinese girl

February 7, 2009

Setelah sebelumnya dikira sebagai gadis yang berasal dari Cina, kali ini tebakannya meleset lagi.

Beberapa minggu lalu gw mengunjungi temen gw di Lausanne, kota berbahasa prancis. Saat mengantar gw ke stasiun, kita ketemu temennya, seorang cewe bule. Mereka ngobrolah pake bahasa prancis -yang hanya sekata dua kata gw mengerti, padahal udah les berlama – lama di ccf, doooh. Giliran cewe itu beramah tamah kepada gw, dia ngajak ngobrol pake bahasa perancis juga. Gw cuma nyengir:

“Excuze moi, je ne comprene pas..” (punten, abdi teu ngartos).

Bergantilah bahasa menjadi bahasa inggris. Waktu gw jelaskan kalau gw se SMA dan se kuliah dengan temen gw ini, dia terkaget  kaget.

“Oo, you’re also from Indonesia??!! I thought you’re Japanese or Korean!”

Hahaha.. mungkin gw memang semanis gadis – gadis Jepang atau Korea di dorama – dorama :)

Banyak jalan menuju Roma

December 29, 2008

Gw ga pernah ngira sebelumnya kalau pepatah itu bisa bener – bener terjadi. Setibanya di Eindhoven, gw dan Novi merenungi pepatah jaman doeloe ini.

Tanggal 23 Desember, gw dan 2 kawan seperjuangan memulai petualangan singkat ke Itali. Tujuan utama: Roma. Tiket pesawat gw: Eindhoven – Pisa PP. Rencananya begitu sampai Pisa, gw naik akan kereta sekitar 4 jam menuju Roma.

Waktu pergi bersepeda ke stasiun Delft sih semua nampak normal, kecuali ada tiga beruang melakukan atraksi membawa koper di atas sepeda. Begitu kereta sampai Eindhoven, barulah keliatan kalau kabut pagi itu lebih tebal dari biasa. Dua penerbangan sebelum gw, di-cancel. Tentu saja penerbangan gw ikut di-cancel dong. Kita dapet pilihan: terbang ke Roma langsung siang itu dari Eindhoven -yang ternyata sudah penuh-, ke Milan siang itu juga -tapi ga kita pilih karena Milan – Roma jauh banget, atau langsung ke Roma sore itu dari bandara lain di kota bernama Weeze. Kita pilih yang terakhir, setelah berhasil diyakinkan oleh si mbak tukang booking kalau bandara itu terletak sangat dekat, cuma 1 jam dari Eindhoven dan tentu saja karena memang tujuan kita si Roma irama.

Ternyata bandara lain itu terletak di Jerman saja, jadi gw harus berganti 5 kali kereta dan 1 bus sebelum sampai bandara itu. Sempet pula ada kecelakaan kereta dan gw harus memilih rute memutar. Oya, sekarang kita jadi ber-4, karena ketemu satu cewe Uzbekistan dengan nasib serupa. Gw deg-degan abis, takut ketinggalan pesawat dan semua tampak baru buat gw, serasa ikut Amazing Race (ada gaya lari – lari dan bingung sambil komat – kamit baca doa). Tapi lega, karena akhirnya nyampe di bandara yang nun jauh di mato itu, tapi kabut masih juga tebel. Haaah, pasrah! setelah sebelumnya dapet kabar kalau penerbangan siang ke Roma dan Milan dari Eindhoven juga akhirnya batal.

Bener aja, penerbangan sore itu ditunda aja gitu. Aduh, panik. Kalau di-cancel lagi ga tau mau gimana. Tapi syukur, alhamdulillah, gw tetep terbang ke Roma. Daaaannn.. jeng jeng… sampailah gw di kota Roma, dimana gw mengalami berbagai macam petualangan sial seru lainnya. Ehehehhe.. gw percaya, memang banyak jalan menuju Roma..

colloseum

Aaahh.. gw suka banget liburan ini!

Susah travel

July 22, 2008

Buat yang mengandalkan travel untuk urusan Bandung-Jakarta atau sebaliknya, mungkin minggu – minggu ini lagi susah ya. Maklumlah, mereka sedang mengganti plat – plat hitam menjadi plat kuning. Jadi kendaraan yang bisa dipake sangat terbatas. Terbukti dengan gw yang booking ekstrans tapi dikasih armada bus pariwisata sampe Jatiwaringin trus lanjut ke Bintaro baru pake mobil travel beneran. Lumayan bikin sebel, 4 jam Bandung – Jakarta tanpa macet, tapi daripada batalin rencana. Jadi kalau mau naik travel sekarang – sekarang ini, booking jauh – jauh hari ya!

Bandung = Car City

July 9, 2008

Bukan hanya weekend yang macet di Bandung. Musim libur begini pun macetnya luar biasaaaa! Sudah benar – benar menjadi kota tujuan wisata, secara gw liat bus – bus pariwisata dengan plat nomor yang antah berantah bertebaran di Bandung (yang jalannya sempit nian ini). Hasil pemantauan gw sementara di Bandung utara, titik – titik kemacetan utama adalah:

1. Setiabudhi bawah (Rumah Mode, bertanggungjawablah kauu..): merembet ke jalan Setiabudhi yang satu jalur dan Cipaganti.

2. Sukajadi (PVJ): yang ini macetnya sampe ke jalan – jalan tikus pun.

3. Cihampelas: biasanya di daerah Ciwalk ya, tapi liburan gini siy di sepanjang cihampelas dong. OMG, perasaan disini udah ga ada yang bagus deh, bahkan patung Aladin aja udah bocel - bocel seperti terserang cacar.

4. Setiabudhi atas: sekitas Swiss Butcher, ini kalau malem siy.

Hayo, ngapain liburan ke Bandung kalau malah macet – macetan disini? Hihi.. padahal gw juga suka ikutan bikin Jakarta tambah macet :P

Credit Card

July 3, 2008

Gw selalu nolak kalo ditawarin kartu kredit. Bagi gw satu sudah cukup (dan satu lagi sebagai kartu tambahan bokap, hehe). Mau bayar pake apa emangnya? Tapi kali ini gw nyesel karena asal – asalan menjawab pertanyaan si tukang kredit mandiri (jelek banget ya namanya?).

Gimana ngga? Sekarang gw sering PP bintaro pake cititrans dan ternyata lagi ada promo: diskon 35% satu jalan atau 50% untuk membeli tiket PP secara langsung pake credit card mandiri. Kebayang dong 70 ribu saja sudah PP Jakarta – Bandung?!! Benci. 

Jajan yuk di Pasteur

April 18, 2008

Waktu ke Bandung kemaren, gw turun di depan Giants atau disebut juga Pasteur point square. Sambil nunggu dijemput, jalan – jalanlah si gw. Baru tau (ngakunya orang Bandung, tapi baru tau) ternyata di situ ada tepat makan yang isinya jajanan – jajanan terkenal, mirip – mirip The Kiosk (Setiabudhi supermarket dan Dago -bekas disc tara). Ada bakso malang cipaganti, baso tahu tulen, batagor (lupa batagor mana, yang pasti terkenal), es campur oyen, bmc, lumpia basah, pempek legit, bebek goreng bandung, seafood, dan banyak lagi.

Sambil nunggu ibu-bapa belanja, gw memilih jajan dvd (ada juga soalnya, hehe) dan sambel pake bakso malang (ini hobi gw, yang penting pedes!). Selesai belanja, bokap gw ga mau ketinggalan jajan, padahal udah makan di rumah, lapar mata seperti anaknya. Sambil makan, bokap ngasih petuah:

“Pulang Bandung yang berikutnya, kamu turun di sini lagi ya, biar bapak nunggu sambil makan, hehehe..”

Bener – bener sama persis sama anaknya, hobi makan.

The Taxi

April 16, 2008

Kehidupan gw di jakarta ga bisa lepas dari yang namanya taksi. Since perusahaan gw tidak menyediakan kendaraan + supir pribadi buat golongan pekerja setingkat gw, jadilah si taksi ini menjadi operasional buat kerjaan gw (aneh bukan, kerjaan keluar – keluar kantor tapi dapet supir aja susah). Tapi jadi kebiasaan juga akhirnya, buat urusan pribadi pun gw lebih suka mengandalkan taksi, sukur – sukur dapet yang tarif lama dengan pelayanan tarif baru, hehe. Gw dinilai cukup berani dan nekat, baru beberapa hari di jkt aja udah berani naik taksi sendiri, padahal gw buta jkt, banget! Ngalamin yang aneh – aneh? sering.

Sempet kaget, waktu seorang supir taksi nanya tujuan, tapi ko suaranya bencong, ngeri! Setelah ditelusuri, ternyata supirnya perempuan, hihi. Si Ibu ini sudah betaun – taun jadi supir taksi buat menghidupi keluarga. Hebatnya, gw tiba – tiba mikir (biasanya males mikir): untung ya nyokap gw ga harus kayak gitu.

Kalo supirnya pura – pura bego mah sering banget, secara gw juga o’on, jadi kadang terpaksa pasrah kena tipu, hahaha. Yah sekarang gw udah mengenal jkt lebih baik, jd setidaknya bisa pasang tampang sudah biasa naik taksi di jkt”.

Karena kenekatan gw, banyak yang wanti – wanti tentang bahaya naek taksi, harus inilah – itulah, ribet. Parahnya, sekarang gw tambah liar. Dulu gw ga berani tuh tidur di taksi. Tapi sekarang.. tidur pulas sepanjang perjalanan. Kemaren aja gw naek di salemba, bangun – bangun udah di fatmawati, hahaha.