Tadinya mau dijudulin “Escape to Bali”, tapi harus mengIndonesia soalnya lagi 17 Agustusan (?!).
Setelah berbagai peringatan flu babi dan ancaman bom, dengan modal kenekatan akhirnya gw memutuskan untuk tetap pergi ke Bali… sendiri. Semuanya berawal dari modal “yang penting gw lari!”. Gw udah ga pake mikir gimana nanti jalan – jalan di Bali, pake mobil atau kendaraan apa dan sama siapa. Pokoknya go show!
Tapi entah mengapa, pelarian gw ini seakan sangat di-ridhoi. Beberapa hari sebelum pergi gw mengirim pesan ke temen (se-SMP & SMA) gw yang kerja di Bali buat minta info atau tebengan, dan dapet. Pada minggu yang sama, sedang ada kongres IPSF yang diadakan oleh junior – junior himpunan gw dan dulu pernah gw aktif hadir saat diselenggarakan di negara lain. Salah seorang teman yang pernah mengetuai organisasi internasional ini, mengajak gw untuk ikut hadir saat weekend. Okei, gw semakin punya tujuan. Yang paling kewl (cool) adalah, sehari sebelum berangkat gw nelepon uwa gw, minta petuah (itinerary) perjalanan di Bali. Uwa gw ini adalah seorang dosen tours and travel di sekolah pariwisata bergengsi di Bandung (cie, bergengsi bo) yang sudah terlalu sering ke Bali. Setelah dibuatkan rencana perjalanan, ternyata beliau dengan inisiatifnya menghubungi seseorang yang dikenal dan mendapatkan sebuah travel yang siap mengantar gw ke mana saja selama hampir 3 hari (thanks to Pegasus travel-Bali, please ask me for contact information
). Jalur konvensional Bali pun gw lalui pada tour days tersebut dengan fasilitas private tour, alias cuma gw sendiri dapet mobil,supir dan bonus guide, sadis, haha.
Hampir setiap sore harinya, gw melakukan perjalanan sendiri dan mencari spot khusus untuk menikmati sunset di sebuah pantai. Terlihat agak menyedihkan tapi gw merasa sangat puas, menikmati waktu gw untuk diri gw sendiri dan “kesendirian” gw.
Pada minggu yang sama itu pula gw bertemu sahabat kuliah gw, yang kebetulan sedang bertugas ke Bali. Wow, indahnya suatu takdir
Weekend gw di kongres IPSF juga terbilang sangat menyenangkan, bertemu beberapa teman lama dari penjuru negara, bertemu dosen – dosen (finally, haha), adik – adik kelas dan banyak kenalan baru tentunya.
Liburan gw di Bali pun ditutup dengan indah dan rasa tak ingin pulang. Di hari terakhir, gw pergi ke Teluk Benoa buat water sport, sendiri (tentu saja). Digodain dan dikasih nomor telepon mas-mas staf berkulit super hitam pun menjadi konsumsi gw hari itu, haha. Hari yang sangat SERU! Gw pulang ke Bandung pun tak sendiri lagi, tapi bersama 3 orang dosen dan rasanya hari itu banyak sekali obrolan seru dengan beliau – beliau.
Perjalanan ke Bali tanpa partner perjalanan ini memberi banyak kebebasan buat gw untuk mengerjakan apa aja yang gw mau, itulah esensi dari berjalan – jalan sendirian!
Banyak sekali orang yang harus gw beri ucapan terima kasih karena telah membuat Bali-time gw begiu indah. Orang tua, Uwa (walau sedang kurang sehat tapi tetap memikirkan liburan seorang wanita labil seperti gw), Intan (untuk smp sma kita sama
), bung E dan B dari travel (semoga semakin sukseess & bakalan gw iklanin deh), Tir, Au & para junior panitia kongres. Gyaaah kayak penghargaan apa aja nih, tapi seriously gw ngerasa liburan ini sangat berkesan dan banyak banget orang yang mewujudkan keterkesanan ini (ihiy).
Gw setuju dengan apa yang Elizabeth Gilbert bilang dalam bukunya: Eat, Pray and Love… Bali memang tempat yang sempurna untuk orang – orang yang butuh pelarian. Hahaha.
