Archive for the 'school' Category

InterSECtion

November 1, 2009

“Kesempatan hanya datang sekali…”

Menurut gw, kesempatan tidak hanya datang sekali. Kesempatan datang berkali – kali, tapi bentuknya berbeda – beda. Jadi tetap saja, semua kesempatan lebih baik tidak disia – siakan :D

Kesempatan yang tidak gw lewatkan (lagi) adalah ikut aktif di InterSECtion, ‘himpunan’ mahasiswa program gw. Seru. Baru merasakan berorganisasi sama orang sini. Hehe.. baru juga menjalani beberapa bulan, wish me luck ya!

Science Communication

October 31, 2009

Ini adalah program kuliah gw. Susah banget nerangin ke orang2 tentang bidang gw ini. Komentar umum yang biasa gw dapet:

“Hah, apaan tuh? Ilmu komunikasi ya?”, atau

“Apa hubungannya sama telecommunication?”

terus pertanyaan akan berlanjut dengan rasa penasaran akan hubungan program gw ini dengan Farmasi, jurusan S1 gw.

Gw kadang males jelasin, jadi suka ngaku ambil program lain yang masih ada hubungannya dengan S1 gw :P (tapi ini memang karena gw juga mengambil beberapa kuliah di Life Science & Technology).

Sebenernya gw pun perlu waktu lebih dari 1 taun untuk benar – benar memahami apa yang sebenarnya gw pelajari. This is totally new for me. Bukan cuma itu, bidang ini juga memang masih anget2 bubur ayam.

Baiklah, gw akan menjelaskan secara bertahap mengenai science communication dalam beberapa postingan ke depan, kalau ga males, hehe.

Intinya, mempelajari bidang ini bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi bagi orang – orang yang sudah biasa hidup eksakta. Oya, sebelumnya, gw mengakui kalau diri gw ini suka ngaku – ngaku ga suka sesuatu yang eksak, tapi baru gw sadari saat ini bahwa hidup gw sebenarnya disana, gw terbiasa hidup bertaun – taun dengan sains, dimana selalu ada kata benar dan salah. Sekarang gw mengalami banyak sekali kesulitan saat harus benar – benar hidup dengan bidang non-eksak atau ilmu sosial. *Sok – sokan nyari jalur lain siiih :P *

Secara kasar, science communication dapat diartikan sebagai: ‘mengkomunikasikan sains’. Walau, sejujurnya, gw sangat sedih jika bidang yang gw tekuni ini hanya diartikan sedemikian rupa. Tapi seperti gw bilang sebelumnya, gw bercita – cita untuk mempopulerkan bidang ini, terutama di Indonesia. Fyi, sudah banyak juga sih orang2 di Indonesia yang bergerak di bidang ini, tapi masih belum banyak keliatan. Yang mungkin cukup menonjol adalah jurnalis untuk sains & teknologi, contohnya: website NetSains.com, dimana sains & teknologi dipopulerkan oleh para penulis dengan berbagai latar belakang.

Hmm akan gw akhiri dimana ya postingan ini? Disini dulu deh, mudah – mudahan bisa dilanjutkan secepatnya  :)

*Tiba – tiba merasa aneh.. posting sesuatu yang cukup serius, apalagi menyangkut sekolah gw, hahaha*

S2 setelah atau sebelum kerja?

October 21, 2009

Dari dulu gw selalu pengen lanjut s2 begitu lulus s1. Kenyataannya gw sempet kerja setelah lulus apoteker. Usaha mencari sekolah pun sudsh dimulai sejak s1, tapi untuk dapet beasiswa tampak sulit. Rata-rata persyartan beasiswa adalah memiliki pengalaman 2 taun bekerja. Walau ada beberapa yang tidak punya persyaratan tersebut.
Yang gw rasakan saat ini, untuk sekolah s2 (terutama di luar negeri) memang lebih baik sudah memiliki pengalaman kerja, kecuali kalau punya otak (dan uang) yang cemerlang. Beberapa alasan kenapa gw berpendapat gitu:

  • kalau udah merasakan pengalaman bekerja, jadi lebih tau apa yang diinginkan (jurusan atau spesialisasi)
  • jika bidang master yang dipilih sesuai bidang kerja, tentu saja pengalaman akan sangat membantu dalam proses belajar, jadi apa yang dipelajari lebih terasa bentuk konkritnya
  • logikanya saat masuk master kita harus udah tau nanti kita mau punya topik thesis apa, dan kalau sudah bekerja kemungkinan banyak sekali kasus yang sudah pernah ditemui yang bisa diangkat menjadi topik
  • jika harus mencari kerja (terutama di Indonesia) setelah lulus nanti, akan lebih mempunyai value karena pengalaman kerja yang dimiliki dan juga gelar s2 yang baru didapat. sejauh yang gw tau, sangat jarang perusahaan di Indonesia yang cari lulusan master dengan pengalaman bekerja yang hampir ga ada (di Indonesia banyak tenaker murah, kalo udah master tapi belum ada pengalaman kan jadi bingung nge-gaji-nya, dibayar mahal ga punya pengalaman, dibayar setaraf s1 nanti malah kabur)

Itu secara umum aja ko, berdasarkan apa yang gw rasakan di kelas, dengan kemampuan seperti gw, dan saat harus ngerjain proyek mandiri. Banyak juga temen-temen gw yang langsung s2 ke LN dan sukses – sukses aja tuh (kayaknya sih kuncinya adalah otak cemerlang) ;)

Oya, kasus ini ga berlaku buat orang – orang sini, karena disini pada umumnya mahasiswa setaraf universitas akan mengambil bachelor dan master secara sepaket (kurang lebih lulus dalam 5 taun). Dan tentu saja, perusahaan2 disini membutuhkan pekerja dengan persyaratan seperti itu.

Pertanyaan selanjutnya, S2 di LN setelah atau sebelum menikah? hahaha.. bukan curcol, tapi setelah ataupun sebelum, dua2nya sama2 butuh pengorbanan ;)

Kembali ke Dunia Nyata

August 31, 2009

Liburan gw berlalu begitu saja.. Sekarang sudah kembali ke peradaban Delft. Dengan otak dan jiwa yang masih juga di Bali, hahaha. Setelah mengalami perjalanan yang sangat panjang (bandung-jakarta-dubai-frankfurt-dusseldorf-venlo-breda-zwijndrecht-rotterdam-delft) dengan mengangkut 29 kg koper, sebuah backpack berisi laptop & buku, dan sebuah tas kamera, gw malah jadi ingin malas2an saja di Delft.

Hari ini adalah minggu pertama taun akademik. Kuliah gw tinggal satu dan ternyata dimulai minggu depan. Tapi gw lupa, gw harus mulai mengerjakan proyek yang tertunda karena gw lebih memilih mudik.

Yuks ah, mohon doakan ya agar semangat dan dapat menyelesaikan studi tahun 2010!

Sekolah di LN, seuntai curhat

March 10, 2009

Sekolah di luar negeri udah jadi cita – cita gw sejak TK. Sadis memang, sejak kecil sudah berambisi. Gw selalu membayangkan enaknya sekolah di eropah. Sekarang gw baru tau rasanya. Kalau anda – anda melihat foto – foto di facebook gw, tampaknya gw selalu bersenang – senang dan banyak berlibur bukan? Sayangnya, sama sekali tidak benar.

Kayaknya jalan – jalan itu hanya sebagian kecil dari kehidupan gw disini. Gw memang menjadikan itu kompensasi dari rasa suntuk, jenuh, pusing, ga ngerti, pengen nangis, nyesel, kecewa, sedih, sampai rasa depresi. Tapi tetep, kadang gw ngerasa kompensasi itu ga cukup, gw masi suka mengiri melihat teman – teman gw yang santai bisa berjalan2 ke lebih banyak tempat. Apakah gw salah pilih sekolah? Gw yakin ko yang namanya sekolah pasti semua sama, mungkin yang ini lebih kandang buaya aja, hehe. Ah rumput tetangga memang selalu lebih hijau. Dasar gw, manusia yang ga pernah puas.

Waktu salah satu institusi pendidikan minta link blog kami para pelajar di sini, gw mikir, kasih atau ngga ya? Katanya buat gambaran bagi calon mahasiswa baru yang mungkin minat sekolah kesini. Akankah mereka menjadi lebih minat untuk sekolah disini setelah membaca keluh kesah gw? Atau setelah melihat ini:

deadlineyes, kumpulan deadline gw dalam 3 minggu ini (dimana deadline sudah bermunculan semenjak minggu kedua masuk kuliah). Setelah memfoto ini, gw pengen bilang: “Mamaaaa lihatlah anakmu ini berkerja keras dimariiiiii..”

Lanjut ke masalah curhat, gw dan seorang temen brinisial A dipanggil N, paling hobi berkeluh kesah. Maklum sama – sama manusia manja yang sok berani sekolah jauh – jauh. Kalau sudah lulus, kita bercita – cita bikin buku: “Tips How to Survive Bersekolah di LN edisi Anak Manja” atau “Tips dan Trik memilih sekolah bagi anak manja yang ingin sekolah di LN” atau bisa jadi judul lainnya yang ditambah embel – embel: “Based on True Story”.

Hmm lagi – lagi, setelah berkeluh kesah, gw harus inget bersyukur. Udah untung gw dapet kesempatan ini. Cita – cita waktu TK pun kesampean. Dan mungkin nanti gw bisa jadi lebih mandiri. Mari positif thinking.

Mari kembali ke dunia nyata: ngerjain tugas dan belajar buat exam! wish me luck!

Is your English beautiful?

February 19, 2009

Dalam mata kuliah desain produk komunikasi, gw sekelompok bersama seorang bocah walanda. Gw sebenernya pengen sekelompok sama bocah lain yang pernah kerja bareng sebelumnya (dan menghasilkan nilai yang sangat cemerlang hahaha). Tapi ya, bocah yang sekelompok dengan gw ini udah mengajak gw sekelompok sejak awal quarter dua dimana gw belum tau realitas (dan kualitas) dia. Gw udah berharap dia lupa kalau dia pernah ngajak sekelompok, ternyata dia tidak lupa, sial.

Hmm bukan kenapa – kenapa, masalahnya bahasa Inggris dia begitu tidak rupawan. Jadi apalah nanti jadinya jika bahasa inggris gw -yang kalo gw pinjem istilah Novi Jepun: “My English is not beautiful”- digabungkan dengan bahasa inggris dia yang setara bahkan cenderung di bawah gw (bukan sulap bukan sihir, kita ikut kelas bahasa Inggris bo, dia levelnya di bawah gw, haha). Mana mata kuliah ini membutuhkan usaha yang sangat besar, mendesign suatu produk disertai tetek bengek teori dan kawan – kawannya yang membutuhkan kecakapan dalam merangkai kata (dan nyap – nyap).

Akhirnya gw sempet bilang ke dia, gw pesimis akan sukses di mata kuliah ini. Terus gw bilang: kita  harus cari proof reader. Dia setuju. Dia bilang pamannya guru bahasa inggris (kenapa dia ga jago bahasa Inggris ya?).

Barusan saja gw menyelesaikan tahap pertama tugas kelompok ini, sedangkan bagian dia sudah diselesaikan kemarin. Cekatan juga bocah ini. Akhirnya gw membaca bagian yang dia buat. Gw pun berubah menjadi guru bahasa Inggris, mengkoreksi kalimat demi kalimat. Sungguh tidak rupawan bahasa Inggrisnya. Damn. Gw memang banyak salah dalam merangkai sebuah tulisan bahasa inggris sosial, tapi dia…. dia menggunakan bahasa percakapan dalam tulisan… Lemas.

Hahaha, tertawa miris. Gw pasrah aja deh. Toh gw juga jadi terpaksa belajar dan lebih berkontribusi untuk sebuah tugas kelompok (huhu menghibur diri). Huh, mana masih banyak tugas mata kuliah lain yang berkelompok. Dan sialnya, pilihan partner di kelas gw cuma sedikit.. secara kami cuma ber-6 sampai ber-8 sekelas. Dikurangi teman sesama internasional yang sama – sama menghindari untuk bekerja bersama.

Yasudahlah.. untuk mata kuliah yang satu ini gw suka meyakini hati gw berdasarkan teori matematika: dimana negatif dikali digatif hasilnya akan positif. Eh tapi, kalo negatif tambah negatif hasilnya tetep negatif ya? kekekkeek..

(de)Motivasi

February 17, 2009

Quarter tiga baru mulai, harusnya gw lebih semangat, apalagi gw sempet liburan sebelum quarter ini mulai.

Tapi kenyataannya, gw sama sekali ga semangat. Gw menyalahkan keadaan, karena baru pulang liburan 3 hari sebelum kuliah mulai, jadi masih ada hawa – hawa santai dan ga mau pisah dari sodara, alasan.

Minggu lalu, gw baru dapet tiket buat pulang ke Indonesia dengan harga murah. Mudah – mudahan semua lancar jadi gw bisa pulang dengan tenang. Rasanya ga sabar pengen cepet – cepet Juli. Langsung ada keinginan untuk bersemangat. Tapi tetep, cuma sekedar keinginan. Yang ada tiap hari ngitungin jumlah minggu yang harus dilewati sebelum summer datang. Haha.

Ini lagi di tengah2 pengerjaan tugas design yang sumpah gw ga tau mau gimana ngerjainnya.

Demotivasi.

Seni musik

January 9, 2009

Ga tau kenapa, tiba – tiba keingetan pelajaran seni musik waktu SMA dulu. Pelajaran paling menyenangkan. Salah satu ujiannya adalah Primavista. Dalam ujian ini para murid dipanggil satu – satu ke meja guru dan memilih sehelai dari beberapa kertas yang posisinya terbalik. Kejutan, di balik tiap kertas tadi tertulis sebaris untaian not angka dimana si murid harus menyanyikan not tersebut di depan sang guru. Seru. Deg – degan dan bingung, takut sumbang, takut salah ambil nada dasar dan takut salah sebut. Ditambah lagi sang guru dengan mukanya yang cukup dingin dan dikenal cukup galak. Awalnya tampak mudah dan simpel. Kenyataannya? ga banyak yang lolos. Heuheu. Lucunya, yang nileinya di atas 6.5 (kalau gak salah) namanya akan disebut dan dipanggil untuk ikut ekskul paduan suara, walau ga wajib.

Oya, si bapak guru pun cukup antik, dengan gaya yang sangat perlente dan tampak sangat berwibawa, akan berjalan masuk kelas dengan membawa gitar dan tak lupa: GARPU TALA. Btw, guru ini juga merangkap guru Fisika, walau gw ga pernah diajar. Di kelas, si bapak membagi kami – kami ini menjadi beberapa suara dan akan bernyanyi bersama dengan alunan gitarnya. Eh ya, sebelumnya tidak lupa: Pemanasan! Gile, seru banget ya. Lebih asik lagi waktu ikutan ekskul paduan suara, gw dapet  ilmu – ilmu menyanyi secara serius (walau udah lupa) dan tentu saja, ga setegang kalau diajar di kelas. Hihi, jadi kangen banget pelajaran seni musik….

Jurnalistik

November 13, 2008

Salah satu (yap, cuma salah satu) mata kuliah yang mencekik di quarter ini mengharuskan gw bikin berita dengan berbagai gaya penulisan setiap minggunya. Bahasa Indonesia aja gw mikirnya harus jungkir-balik, apalagi bahasa Inggris. Tolong sayahhh..

Mengeluh

November 9, 2008

Pengen cerita-cerita, tapi lagi eneg banget sama kepadatan quarter 2 sekolah gw ini. Rasanya pengen mengeluh setiap saat. Huhu.