Cara mengungkapkan terima kasih setiap orang sangatlah beragam. Ada yang menyampaikan dengan berlebihan ada pula yang hanya menyimpannya di dalam hati. Dari pengalaman gw, mungkin ini ada sangkut – pautnya juga dengan kebudayaan masing – masing daerah, tentu saja, selain masalah pribadi masing – masing.
Gw dan keluarga gw adalah tipe ekspresif dalam urusan terima kasih. Mungkin ini yang selalu ditanamkan oleh Bapak yang punya tingkat hospitality melebihi rata – rata.
Dengan mudah gw akan bilang terima kasih pada apa saja, bahkan yang kayaknya ga perlu pun, gw akan bilang terima kasih. Apakah ambang terima kasih gw sudah sangat rendah? Atau sudah menjadi kebiasaan? Haha, ga tau. Gw selalu menganggap terima kasih = rasa syukur. Oya, ucapan terimakasih gw ini senada dengan kata – kata “maaf” yang sering gw pake, gw sering ngerasa ga enakan, terutama sama orang baru. *kalau udah lama kenal malah kurang ajar tapinya, haha*. Temen2 bule gw disini suka bilang: “Sorry for what?” atau ” Thank you for what?” atau “I’m the one who should say that!”
Kadang gw suka heran sama orang – orang tertentu yang sulit sekali bilang terima kasih. Padahal bantuan yang sudah diberikan sangatlah tak terkira (bukan masalah materi saja). Misalnya bilang terimakasih hanya disampaikan melalui orang ketiga, atau bahkan tidak pernah menyampaikan apa2. Sampai saya suka bertanya – tanya, untuk apa ada teknologi telepon dan bahkan sekarang hape dan internet yang bisa menghubungkan satu orang dengan orang lainnya secara langsung.
Hmm, gw sedih berhubung ini menimpa keluarga gw, dan bisa dibilang gw turut andil (kalau bukan karena gw, pasti kelurga gw ga ada urusan). Dulu ga pernah gw pikirin, gw terlalu buta, dan sekarang jadi kepikiran. Bingung aja, gimana sih rasanya kalau orang tua sendiri membantu orang lain, tapi (kelihatannya) ga ada itikad baik dari orang yang dibantu. Anehnya lagi, orang tua gw sangat ikhlas, ga pernah mikirin hal kayak gini, sedikit pun. Gw yang selalu punya pikiran picik, malah jadi mikir: semahal itu kah kata “terima kasih” atau semurahan itu kah keluarga gw?
“Kita membantu bukan untuk dibilangin terima kasih, tapi untuk meringankan beban orang lain, urusan terima kasih itu urusan pribadi masing – masing dan Tuhan.”
Yah, mungkin orang yang pernah mendapat bantuan keluarga gw sudah mengungkapkan rasa terima kasihnya lewat orang ketiga, dalam hati atau langsung pada Allah SWT.
Ah, ini harusnya bukan urusan gw lagi. Yang berlalu biarlah berlalu, marilah bersama kita belajar untuk lebih sabar dan ikhlas *gw lagi religius mode on*
*I’ll always pray for both of you, dear parents, thank you for everything*