Archive for the 'opinion' Category

Bagaimana cara menghadapi undangan pernikahan mantan?

November 13, 2009

Ini adalah hasil perbincangan gw dan housemates pada saat gw sedang down-down-nya karena si mantan -yang saat itu baru putus 3 bulanan- memberi tahu kalau dirinya sudah punya niatan menikahi wanita lain dan akan melakukan pertemuan keluarga. Lucu -dan miris- sebenernya kalau mengingat masa – masa itu dan bagaimana gw membicarakan ini di rumah.

Salah seorang housemate gw yang mantannya menikah duluan teringat akan pengalaman ini dan berbagi dengan gw. Sahabat housemate gw ini menulis di blognya mengenai pilihan akan pertanyaan:

“Jika mantan lo menikah duluan dan saat itu lo masih single, bagaimana cara lo menghadapi undangan pernikahan mantan lo?”

A. Datang bersama seorang cowo ganteng-sempurna-yang-entah-siapa-itu, buat nunjukkin kalo lo bahagia dengan cowo yang lebih oke.
B. Datang rame – rame bersama teman – teman dekat.
C. Tidak datang sama sekali.
D. Datang sendirian (tentu saja dengan tampil sangat cantik).

Housemate gw memilih option D. Datang sendirian! Bahkan dia datang ke akad nikah mantannya. Entah bagaimana itu rasanya. Tapi ya mungkin mantannya menikah setelah beberapa lama putus, bukan dalam itungan beberapa bulan atau satu tahun.

Oke, waktu itu gw ga bisa milih option mana pun, secara masih labil – labilnya. Dulu gw pikir, posisi gw yang di luar negeri mungkin menguntungkan karena gw ga usah ambil pusing. Tapi saat ini gw sepertinya akan memilih option D juga, hahaha *ikut2an mode on*. Housemate gw yang satunya akan memilih option A, secara pride dia yang paling tinggi, hihihihi.

Kemudian kita menciptakan option baru:

E. Datang bersama seorang bayi atau balita dan bilang -dengan wajah ikhlas pasrah- di depan si mantan (dan mempelai wanita beserta keluarga): “Nak, salim sama ayah… itu ayah kamu…”

Wakakakkakakkakaka… sinetron abis! Seru banget kayaknya kalau memilih option E. Jadi ingin coba, atau ada yang mau coba duluan? :D

Adakah artinya

October 22, 2009

4 taun ga ada apa-apanya dibanding 2 bulan untuk selamanya. wow.

Terima Kasih

October 21, 2009

Cara mengungkapkan terima kasih setiap orang sangatlah beragam. Ada yang menyampaikan dengan berlebihan ada pula yang hanya menyimpannya di dalam hati. Dari pengalaman gw, mungkin ini ada sangkut – pautnya juga dengan kebudayaan masing – masing daerah, tentu saja, selain masalah pribadi masing – masing.

Gw dan keluarga gw adalah tipe ekspresif dalam urusan terima kasih. Mungkin ini yang selalu ditanamkan oleh Bapak yang punya tingkat hospitality melebihi rata – rata.

Dengan mudah gw akan bilang terima kasih pada apa saja, bahkan yang kayaknya ga perlu pun, gw akan bilang terima kasih. Apakah ambang terima kasih gw sudah sangat rendah? Atau sudah menjadi kebiasaan? Haha, ga tau. Gw selalu menganggap terima kasih = rasa syukur. Oya, ucapan terimakasih gw ini senada dengan kata – kata “maaf” yang sering gw pake, gw sering ngerasa ga enakan, terutama sama orang baru. *kalau udah lama kenal malah kurang ajar tapinya, haha*. Temen2 bule gw disini suka bilang: “Sorry for what?” atau ” Thank you for what?” atau “I’m the one who should say that!”

Kadang gw suka heran sama orang – orang tertentu yang sulit sekali bilang terima kasih. Padahal bantuan yang sudah diberikan sangatlah tak terkira (bukan masalah materi saja). Misalnya bilang terimakasih hanya disampaikan melalui orang ketiga, atau bahkan tidak pernah menyampaikan apa2. Sampai saya suka bertanya – tanya, untuk apa ada teknologi telepon dan bahkan sekarang hape dan internet yang bisa menghubungkan satu orang dengan orang lainnya secara langsung.

Hmm, gw sedih berhubung ini menimpa keluarga gw, dan bisa dibilang gw turut andil (kalau bukan karena gw, pasti kelurga gw ga ada urusan). Dulu ga pernah gw pikirin, gw terlalu buta, dan sekarang jadi kepikiran. Bingung aja, gimana sih rasanya kalau orang tua sendiri membantu orang lain, tapi (kelihatannya) ga ada itikad baik dari orang yang dibantu. Anehnya lagi, orang tua gw sangat ikhlas, ga pernah mikirin hal kayak gini, sedikit pun. Gw yang selalu punya pikiran picik, malah jadi mikir: semahal itu kah kata “terima kasih” atau semurahan itu kah keluarga gw?

“Kita membantu bukan untuk dibilangin terima kasih, tapi untuk meringankan beban orang lain, urusan terima kasih itu urusan pribadi masing – masing dan Tuhan.”

Yah, mungkin orang yang pernah mendapat bantuan keluarga gw sudah mengungkapkan rasa terima kasihnya lewat orang ketiga, dalam hati atau langsung pada Allah SWT.

Ah, ini harusnya bukan urusan gw lagi. Yang berlalu biarlah berlalu, marilah bersama kita belajar untuk lebih sabar dan ikhlas *gw lagi religius mode on*

*I’ll always pray for both of you, dear parents, thank you for everything*

S2 setelah atau sebelum kerja?

October 21, 2009

Dari dulu gw selalu pengen lanjut s2 begitu lulus s1. Kenyataannya gw sempet kerja setelah lulus apoteker. Usaha mencari sekolah pun sudsh dimulai sejak s1, tapi untuk dapet beasiswa tampak sulit. Rata-rata persyartan beasiswa adalah memiliki pengalaman 2 taun bekerja. Walau ada beberapa yang tidak punya persyaratan tersebut.
Yang gw rasakan saat ini, untuk sekolah s2 di luar negeri memang lebih baik sudah memiliki pengalaman kerja, kecuali kalau punya otak (dan uang) yang cemerlang. Beberapa alasan kenapa gw berpendapat gitu:

  • kalau udah merasakan pengalaman bekerja, jadi lebih tau apa yang diinginkan (jurusan atau spesialisasi)
  • jika bidang master yang dipilih sesuai bidang kerja, tentu saja pengalaman akan sangat membantu dalam proses belajar
  • logikanya saat masuk master kita harus udah tau nanti kita mau punya topik thesis apa, dan kalau sudah bekerja kemungkinan banyak sekali kasus yang sudah pernah ditemui yang bisa diangkat menjadi topik
  • setelah lulus, jika harus mencari kerja (terutama di Indonesia), akan lebih mempunyai value. sejauh yang gw tau, jarang perusahaan di Indonesia yang cari lulusan master dengan pengalaman bekerja yang hampir ga ada (di Indonesia banyak tenaker murah, kalo udah master tapi belum ada pengalaman kan jadi bingung nge-gaji-nya)

Itu secara umum aja ko, berdasarkan apa yang gw rasakan di kelas, dengan kemampuan seperti gw, dan saat harus ngerjain proyek mandiri. Banyak juga temen-temen gw yang langsung s2 ke LN dan sukses – sukses aja tuh (kayaknya sih kuncinya adalah otak cemerlang) ;)

Oya, kasus ini ga berlaku buat orang – orang sini, karena disini pada umumnya mahasiswa setaraf universitas akan mengambil bachelor dan master secara sepaket (kurang lebih lulus dalam 5 taun). Dan tentu saja, perusahaan disini membutuhkan pekerja dengan persyaratan seperti itu.

Pertanyaan selanjutnya, S2 di LN setelah atau sebelum menikah? hahaha.. bukan curcol, tapi setelah ataupun sebelum, dua2nya sama2 butuh pengorbanan ;)

Pembuat Kecut

September 25, 2009

Apakah sebenernya arti kata ‘pengecut’?

Asal kata = kecut?

Kecut = rasa asam?

Jadi, pengecut = pembuat kecut? jeruk atau cuka misalnya.. *garing mode on*

Bisa dilihat di kamus besar bahasa Indonesia tentunya…

Tapi bagi gw, seseorang yang tidak berani mengakui perbuatan yang pernah dilakukannya adalah seorang pembuat kecut ;)

Wakuncar

May 11, 2009

Gw ga pernah nyangka, akhirnya diapelin pacar ke eropa pun beneran terjadi. Hehe. Seneng banget pastinya, bisa ketemu si pacar setelah 8 bulan ga ketemu. Tapi di hari pertama dia datang, gw malah langsung sedih. Sedih mengingat dia cuma akan disini 2 minggu aja. Pasti kalau dia pulang gw bakal sedih banget.

Dan 2 minggu lewat gitu aja. Hwaaaa wakuncar sudah habisssss. Sekarang bawaanya lagi mellow. Hihi.. sampai kapan ya ngerasa mellow2 gini?

Pelajaran pertama: kalau dikunjungin pacar jangan cuma 2 minggu (gampang aja gw ngomong, mana duitnya). Pelajaran kedua: suruh pacar ikut pindah ke kota tempat belajar, dijamin termotivasi, hahaha. Pelajaran ketiga: nanti kalau pulang buat liburan ke indonesia pasti ga pengen balik lagi kesini, jadi mending ga usah pulang sekalian (hwaaa kangen Banduuuung…dan pacar).

Birthday vs personality

March 22, 2009

Waktu lagi buka – buka kolom boxes facebook gw, gw baru inget kalau disitu ada salah satu hasil tes bodohnya facebook tentang tanggal lahir gw vs my personality. Menurut gw hasilnya memang sesuai (atau suka sok – sok disesuaikan? hehe) baik yang positif maupun yang negatifnya.

my-bday-meaning1Silakan deh yang kenal gw yang menilai apakah hasil ini sesuai dengan gw?

Kalau hidup sudah bergantung internet

January 12, 2009

Hari gini gitu loh?! Saat semua akses internet sudah begitu mudah, gw yakin mayoritas manusia di bumi ini udah kenal internet. Minimal pernah denger lah. Hehe, sok meng-generalisir.

Tapi gw ga penah nyangka, kalau hidup gw bakal se-addict ini dengan yang namanya internet. Internet menjadi pusat kehidupan gw saat bangun tidur, sebelum kuliah, istirahat, pulang kuliah dan sebelum tidur. Saat koneksi internet di kamar gw mati, gw akan kelabakan dan bengong mau ngapain (iya gw tau, harusnya bisa gw isi dengan beribadah, hehe). Padahal tugas gw masih banyak yang bisa dikerjain tanpa internet, tapi selalu berasa kurang kalau internet ga nyambung. Bengong di kamar juga sekarang kerasa sepi, mau nonton, ga ada tv, kalau pun ada tv juga ga ada sinetron, heee. Gw merasa hampa banget kalau internet mati (sedikit mendramatisir, tapi seperti itu rasanya kurang lebih).

Sebenernya apa yang gw lakukan sementara ber-internet? Tugas dan belajar hanya beberapa persen deh kayaknya. Sisanya tau sendiri ya, chatting (yaeyalah LDR hidup tanpa chat apa jadinya), facebook (ga tau gimana menghilangkan addict yang satu ini), email, streaming film seri dan blog (walau ga sering).

Selamat dan sukses ya buat temen – temen gw, disini terutama, yang kuat iman bisa matiin internetnya dengan sengaja.

Pelit?

January 5, 2009

Katanya orang Belanda pelit. Hihi, ini doktrin yang gw dapet. Sejauh ini, belum terbukti. Malah, gw selalu menemukan mereka – mereka yang begitu baik hati dan jauh dari kata pelit. Beberapa contoh yang gw inget (katanya kebaikan orang itu harus selalu diinget ya, jangan hanya inget kebaikan diri sendiri -ini sombong, hihi-):

  • salah seorang teman sejurusan mengirim berkas – berkas tugasnya yang dia kerjakan tahun lalu, tanpa gw minta (mungkin ini karena kasian melihat gw yang begitu desperate dengan tugas – tugas, haha)
  • salah seorang teman tidak sejurusan yang baru gw kenal, dimana gw mengambil kuliah yang sama, mengirimkan contoh – contoh soal ujian dan tugas dari tahun sebelumnya, juga tanpa diminta
  • karena agak terjebak ikut membantu di hari promosi jurusan, yang mana isinya ternyata dalam bahasa lokal, dosen gw memberi voucher beli buku seharga 15 euro, yeah!! Eh seminggu kemudian, dosen yang lain memberi gw coklat sebagai rasa terima kasih. Ini dia hadiahnya: gifts
  • dosen – dosen yang rasanya  ngasih bonus menulis di ujian gw, hihi, terimakasih ya meneer!

Sebenernya masih banyak kebaikan yang gw terima, yang tentu saja mematahkan teori ke-pelit-an tersebut. Satu yang gw pelajari dan gw rasa harus gw tiru adalah bagaimana cara mereka menghargai orang lain dan juga bagaimana mereka menyampaikan rasa terima kasih. Hmm, semoga yang gw temukan ini adalah mayoritas dan akan selalu gw temukan, hehe.

Tip

July 3, 2008

Kalau di tukang tambal ban perlu ngasi tip ga? Tadi gw ga ngasi, lempeng aja.

Sebenernya gw juga masih suka bingung, perlu ngasih tip atau ngga ya buat tukang cuci mobil di bengkel? Secara di tukang cuci yang gw datengin kemaren, yang ngerjainnya borongan, mobil kecil dirempug banyak orang. Jadi gw memutuskan untuk tidak memberi tip.

Di tempat parkir beberapa mall, suka ditulis: Mohon Tidak Memberi Tip. Jelas dong gw ga akan ngasi tip.

Jadi inget juga postingan Bowo tentang ngasi tips di salon. Hmmmh.. jadi sebenernya, dimana saja ya, kita tidak perlu atau sebaiknya ngasi tip?