Archive for the 'gerlong's family' Category

Terima Kasih

October 21, 2009

Cara mengungkapkan terima kasih setiap orang sangatlah beragam. Ada yang menyampaikan dengan berlebihan ada pula yang hanya menyimpannya di dalam hati. Dari pengalaman gw, mungkin ini ada sangkut – pautnya juga dengan kebudayaan masing – masing daerah, tentu saja, selain masalah pribadi masing – masing.

Gw dan keluarga gw adalah tipe ekspresif dalam urusan terima kasih. Mungkin ini yang selalu ditanamkan oleh Bapak yang punya tingkat hospitality melebihi rata – rata.

Dengan mudah gw akan bilang terima kasih pada apa saja, bahkan yang kayaknya ga perlu pun, gw akan bilang terima kasih. Apakah ambang terima kasih gw sudah sangat rendah? Atau sudah menjadi kebiasaan? Haha, ga tau. Gw selalu menganggap terima kasih = rasa syukur. Oya, ucapan terimakasih gw ini senada dengan kata – kata “maaf” yang sering gw pake, gw sering ngerasa ga enakan, terutama sama orang baru. *kalau udah lama kenal malah kurang ajar tapinya, haha*. Temen2 bule gw disini suka bilang: “Sorry for what?” atau ” Thank you for what?” atau “I’m the one who should say that!”

Kadang gw suka heran sama orang – orang tertentu yang sulit sekali bilang terima kasih. Padahal bantuan yang sudah diberikan sangatlah tak terkira (bukan masalah materi saja). Misalnya bilang terimakasih hanya disampaikan melalui orang ketiga, atau bahkan tidak pernah menyampaikan apa2. Sampai saya suka bertanya – tanya, untuk apa ada teknologi telepon dan bahkan sekarang hape dan internet yang bisa menghubungkan satu orang dengan orang lainnya secara langsung.

Hmm, gw sedih berhubung ini menimpa keluarga gw, dan bisa dibilang gw turut andil (kalau bukan karena gw, pasti kelurga gw ga ada urusan). Dulu ga pernah gw pikirin, gw terlalu buta, dan sekarang jadi kepikiran. Bingung aja, gimana sih rasanya kalau orang tua sendiri membantu orang lain, tapi (kelihatannya) ga ada itikad baik dari orang yang dibantu. Anehnya lagi, orang tua gw sangat ikhlas, ga pernah mikirin hal kayak gini, sedikit pun. Gw yang selalu punya pikiran picik, malah jadi mikir: semahal itu kah kata “terima kasih” atau semurahan itu kah keluarga gw?

“Kita membantu bukan untuk dibilangin terima kasih, tapi untuk meringankan beban orang lain, urusan terima kasih itu urusan pribadi masing – masing dan Tuhan.”

Yah, mungkin orang yang pernah mendapat bantuan keluarga gw sudah mengungkapkan rasa terima kasihnya lewat orang ketiga, dalam hati atau langsung pada Allah SWT.

Ah, ini harusnya bukan urusan gw lagi. Yang berlalu biarlah berlalu, marilah bersama kita belajar untuk lebih sabar dan ikhlas *gw lagi religius mode on*

*I’ll always pray for both of you, dear parents, thank you for everything*

Orang tua

October 12, 2009

I just love my wise and *selalu ikhlas* parents.

Kapan ya bisa menjadi seperti mereka? :)

Nephew

January 9, 2009

Terbangun pagi ini, kemudian tersadar.. baru saja mimpiin keponakan gw yang katanya lagi lucu – lucunya.

hamam ardell pratama prabhaswara

ardell

Huhu miss him so much..

*foto ini udah gw print berwarna di perpus, sebesar A8 dan gw pajang di samping jadwal kuliah

Memasak Mudah Seri 1

July 1, 2008

Udah 2 minggu ini si ibu pindah sementara ke Jakarta  Tangerang, Bintaro tepatnya. Mengurus keponakan gw yang ditinggal bundanya kerja. Terpaksalah gw bertindak sebagai ibu rumah tangga gadungan yang bisanya cuma sok ngatur menu harian. Tapi lama – lama seru juga, belanja bahan – bahan di supermarket (belum tertarik untuk pergi ke pasar tradisional), mikir masak apa tiap hari, nyoba – nyoba masak yang gampang, skill pun mulai terasah, saaaahh…

Salah satu menu pertama yang gw masak sendiri minggu lalu adalah oseng – oseng daging cincang (nama ini baru aja gw karang). Menu ini bisa dibuat oleh anak SD sekali pun (soalnya gw diajarin masak ini oleh Uwa waktu gw masih SD). Bahan – bahan yang dibutuhkan:

1. Daging cincang (0,25 kg).

2. Bawang putih (cukup 1 siung), cincang/potong kecil dengan gaya cepet ala koki-koki di TV.

3. Bawang bombay (cukup 1/2 potong), potong – potong sesuai selera.

4. Mentega (1/2 sendok teh) dan sedikit minyak goreng (kira – kita 7/8 sendok teh :P ). 

5. Garam, merica, kaldu bubuk (optional).

Yang dibutuhkan adalah sebuah katel teflon – anti lengket dan sendok kayu untuk mengaduk. Pertama – tama, tumis kedua jenis bawang dengan mentega dan minyak sampai harum tapi jangan gosong. Lalu masukkan daging cincang dan aduk – aduk dengan api sedang. Jangan lupa masukkan garam, merica, dan kaldu bubuk secukupnya. Masak sampai matang berwarna kecoklatan dan tercium wangi yang bikin laper. Jika berwarna coklat tua atau kehitaman berati masaknya kelamaan atau apinya kegedean (semi-gagal). Sajikan bersama sambal botol bila suka pedas.

Hehehe, cemen banget ya masaknya? Biarin ah, yang penting enak (karena ga ada pilihan lain)..

Selop Ijo dan Tusuk Gigi

June 27, 2008

Kaka gw sering banget saliwang (kamus Sunda, kalau denger cuma selewat doang). Beberapa hari yang lalu gw beliin dia salah satu jenis Burger.

Gw: “Teh, itu aku beliin Sloppy Joe..”

Teteh: “Apa? SELOP IJO???!!”

Ini pronouncation gw yang jelek atau memang kaka gw aja yang bermasalah ya? Gw jadi inget, kadang saliwangnya si teteh bikin malu. Kayak waktu di nikahan salah satu sepupu gw, dimana yang bertindak sebagai perias adalah Sugi (dulu dia cukup ternama, perias artis – artis seperti KD).

Nyokap (sambil bisik – bisik): “Teh.. teh.. liat itu tuh yang namanya Sugi..”

Teteh (sambil teriak): “Apa Mah? TUSUK GIGI???!!”

Ya ampyun, itu si perias sampe nengok gara – gara kaka gw ngomongnya keras banget.

Tabur Bunga

May 26, 2008

Topik yang lagi seru – serunya di rumah masih seputar ART (asisten rumah tangga). Setelah terjadi berbagai intrik dan tercapainya suatu titik akumulasi, ART yang sudah 10 taun kerja di rumah gw, akhirnya angkat kaki juga. Pesta porak dong gw. Heee.. Tapi pesta yang benar – benar porak masih belum terlaksana, secara si ART (suami-istri-anak) masih bolak – balik ke rumah buat keperluan yang ga jelas. Salah satu keperluan itu adalah menabur kembang sambil komat – kamit di depan rumah gw. They are really nuts! Emang mereka pikir rumah gw taman makam pahlawan??!! Gila.. di jaman 100 tahun kebangkitan bangsa Indonesia, masih adaaaa aja. 

Btw, kemaren gw nelepon Mama Lauren, katanya gw harus tabur garem depan rumah.. Hakhakahak… Ular kale!

Mibo

May 7, 2008

Sejak di rumah gw ada bayi, kata “mibo” jadi terasa sangat tidak asing. “Mibo” dirintis pertama kali oleh sepupu gw, Findra, waktu umurnya masih 2 taun. Karena udah bisa ngomong, jadi dia akan minta sama ibunya kalo dia mau minum asi. Nah, si “mibo” ini digunakan saat dia sudah mengantuk.

“Ibu… mau mibooooo…”

MIBO = MImi sambil BObo. Si bayi dan si ibu sama – sama tiduran*). Jadi, sekarang kalau ponakan gw udah gelisah – gelisah gitu, semua langsung bilang:

“Mau mibo ya de?” atau “Yuk kita mibo…”

Wondering,  orang lain ada ga yang pake kata “mibo”?

*)Konon, menyusui dengan cara seperti ini sudah sangat dilarang, karena bisa berakibat buruk. Kalo si Ibu ketiduran, bisa – bisa bayi tersedak dan ga ketauan. Jadi sebaiknya dilakukan dengan hati – hati :D

Keponakan dan tante

April 1, 2008

30 Maret 2008, keponakan gw lahir. Laki – laki berbobot 2.95 kg dan panjang 49 cm itu dikasi nama cukup panjang (namanya bukan “CUKUP PANJANG”). Setelah terjadi perdebatan sengit dalam penentuan nama panggilan, akhirnya nama panggilan “Tama” pun berubah menjadi “Ardell” (Please do not pronounce it in Français way). Gw sebagai bibi atau tante satu – satunya, ga mau kalah sengit dalam menentukan panggilan buat diri gw sendiri. Berbagai opsi telah terpikirkan:

  • Bi Mela, Bi Meli: Berhubung gw orang Sunda, panggilan ini harusnya oke – oke aja. Tapi aduh gw aga males dipanggil “Bibi” secara para asisten rumah tangga di lingkungan gw juga biasa dipanggil dengan sebutan itu. Yah, gw ga suka dipanggil MELI ko ada opsi Bi Meli?!
  • Tante Mela: Kalo sebutan ini sih umum banget. Temen – temen orang tuanya juga pasti nanti dipanggil “Tante”. Termasuk tante – tante gembira :P
  • Makcik: Ini mah panggilan Alif ke Anggi.
  • Bu’de’: Kesannya tua banget bo.
  • Aunt Mela, Aunty (US), Auntie (UK): Sempet dipanggil dengan sebutan ini tapi jiwanya ga kepanggil uy. Sok English juga, ntar kayak Cincha Lawra ya.
  • Tia (Spanish): Lucu, kayak nama sahabat gw. Ternyata kalo paman: Tio. Hihi.
  • Zia (Italy): Susah buat disebutin anak kecil ya; paman: Zio.
  • Amita (Latin): Awalnya gw kira ini bagus, tapi Mei ama Anggi langsung bilang: Amita Bachan, Indihe abis!
  • Ante (Old French): Mirip – mirip Tante, cuma Ante kesannya manja – manja gimana gitu.. kayak manis-manja group.

Yaaah.. gimana si keponakan gw aja deh mau manggil gw apa. Gw suruh mikir sendiri, hehe.