Ini adalah hasil perbincangan gw dan housemates pada saat gw sedang down-down-nya karena si mantan -yang saat itu baru putus 3 bulanan- memberi tahu kalau dirinya sudah punya niatan menikahi wanita lain dan akan melakukan pertemuan keluarga. Lucu -dan miris- sebenernya kalau mengingat masa – masa itu dan bagaimana gw membicarakan ini di rumah.
Salah seorang housemate gw yang mantannya menikah duluan teringat akan pengalaman ini dan berbagi dengan gw. Sahabat housemate gw ini menulis di blognya mengenai pilihan akan pertanyaan:
“Jika mantan lo menikah duluan dan saat itu lo masih single, bagaimana cara lo menghadapi undangan pernikahan mantan lo?”
A. Datang bersama seorang cowo ganteng-sempurna-yang-entah-siapa-itu, buat nunjukkin kalo lo bahagia dengan cowo yang lebih oke.
B. Datang rame – rame bersama teman – teman dekat.
C. Tidak datang sama sekali.
D. Datang sendirian (tentu saja dengan tampil sangat cantik).
Housemate gw memilih option D. Datang sendirian! Bahkan dia datang ke akad nikah mantannya. Entah bagaimana itu rasanya. Tapi ya mungkin mantannya menikah setelah beberapa lama putus, bukan dalam itungan beberapa bulan atau satu tahun.
Oke, waktu itu gw ga bisa milih option mana pun, secara masih labil – labilnya. Dulu gw pikir, posisi gw yang di luar negeri mungkin menguntungkan karena gw ga usah ambil pusing. Tapi saat ini gw sepertinya akan memilih option D juga, hahaha *ikut2an mode on*. Housemate gw yang satunya akan memilih option A, secara pride dia yang paling tinggi, hihihihi.
Kemudian kita menciptakan option baru:
E. Datang bersama seorang bayi atau balita dan bilang -dengan wajah ikhlas pasrah- di depan si mantan (dan mempelai wanita beserta keluarga): “Nak, salim sama ayah… itu ayah kamu…”
Wakakakkakakkakaka… sinetron abis! Seru banget kayaknya kalau memilih option E. Jadi ingin coba, atau ada yang mau coba duluan?
Silakan deh yang kenal gw yang menilai apakah hasil ini sesuai dengan gw?