Archive for October, 2009

Science Communication

October 31, 2009

Ini adalah program kuliah gw. Susah banget nerangin ke orang2 tentang bidang gw ini. Komentar umum yang biasa gw dapet:

“Hah, apaan tuh? Ilmu komunikasi ya?”, atau

“Apa hubungannya sama telecommunication?”

terus pertanyaan akan berlanjut dengan rasa penasaran akan hubungan program gw ini dengan Farmasi, jurusan S1 gw.

Gw kadang males jelasin, jadi suka ngaku ambil program lain yang masih ada hubungannya dengan S1 gw :P (tapi ini memang karena gw juga mengambil beberapa kuliah di Life Science & Technology).

Sebenernya gw pun perlu waktu lebih dari 1 taun untuk benar – benar memahami apa yang sebenarnya gw pelajari. This is totally new for me. Bukan cuma itu, bidang ini juga memang masih anget2 bubur ayam.

Baiklah, gw akan menjelaskan secara bertahap mengenai science communication dalam beberapa postingan ke depan, kalau ga males, hehe.

Intinya, mempelajari bidang ini bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi bagi orang – orang yang sudah biasa hidup eksakta. Oya, sebelumnya, gw mengakui kalau diri gw ini suka ngaku – ngaku ga suka sesuatu yang eksak, tapi baru gw sadari saat ini bahwa hidup gw sebenarnya disana, gw terbiasa hidup bertaun – taun dengan sains, dimana selalu ada kata benar dan salah. Sekarang gw mengalami banyak sekali kesulitan saat harus benar – benar hidup dengan bidang non-eksak atau ilmu sosial. *Sok – sokan nyari jalur lain siiih :P *

Secara kasar, science communication dapat diartikan sebagai: ‘mengkomunikasikan sains’. Walau, sejujurnya, gw sangat sedih jika bidang yang gw tekuni ini hanya diartikan sedemikian rupa. Tapi seperti gw bilang sebelumnya, gw bercita – cita untuk mempopulerkan bidang ini, terutama di Indonesia. Fyi, sudah banyak juga sih orang2 di Indonesia yang bergerak di bidang ini, tapi masih belum banyak keliatan. Yang mungkin cukup menonjol adalah jurnalis untuk sains & teknologi, contohnya: website NetSains.com, dimana sains & teknologi dipopulerkan oleh para penulis dengan berbagai latar belakang.

Hmm akan gw akhiri dimana ya postingan ini? Disini dulu deh, mudah – mudahan bisa dilanjutkan secepatnya  :)

*Tiba – tiba merasa aneh.. posting sesuatu yang cukup serius, apalagi menyangkut sekolah gw, hahaha*

Sunlish

October 23, 2009

Sekitar sebulan lalu, gw dan seorang temen didaulat untuk jadi MC Indonesian Night, acara yang diadakan oleh PPI Delft untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia. Cerita sedikit tentang acara ini, walau dengan tim inti yang cukup terbatas, tapi acara ini sukses luar biasa. Banyak sekali orang yang membantu, apalagi dalam urusan performance. Many thanks!

Kembali ke topik… gw dan temen gw hanya latihan singkat untuk jadi MC ini. Maklum, temen gw lagi sibuk – sibuknya thesis dan gw cukup keteteran ngurusin materi acara bareng tim yang cuma bertiga. Tapi, semuanya berjalan cukup lancar, untunglah. Malam itu juga temen gw memposting video tari Indang yang dibawakan di salah satu bagian acara. Tentu saja, ada gw yang lagi ngemsi. Gw ga terlalu merhatiin bagian gw sampe seorang temen komentar ke gw:

“Neng, Sunda pisan logatnya.”

Hahaha. Saat gw ulang videonya, yes, gw Sunda sekali. Waktu sering bantu – bantu ngemsi di Bandung, gw selalu menyadari ini, tapi gw merasa sudah makin menghilang logatnya dan lebih banyak orang lain yang lebih Sunda dari gw, jadi rasanya gw normal-normal aja. Karena kali ini pake bahasa Inggris, temen gw bilang kalo Inggris gw “Sunlish”. Hahaha.

Yeah, Singapore punya Singlish, gw punya Sunlish!

Adakah artinya

October 22, 2009

4 taun ga ada apa-apanya dibanding 2 bulan untuk selamanya. wow.

Tentang Menjaga Perasaan

October 22, 2009

Dear Bapak,

kenapa mesti menjaga perasaan keluarga orang, jika mereka tidak menjaga perasaan keluarga kita?

Love,

anak ke-2 Bapak

Terima Kasih

October 21, 2009

Cara mengungkapkan terima kasih setiap orang sangatlah beragam. Ada yang menyampaikan dengan berlebihan ada pula yang hanya menyimpannya di dalam hati. Dari pengalaman gw, mungkin ini ada sangkut – pautnya juga dengan kebudayaan masing – masing daerah, tentu saja, selain masalah pribadi masing – masing.

Gw dan keluarga gw adalah tipe ekspresif dalam urusan terima kasih. Mungkin ini yang selalu ditanamkan oleh Bapak yang punya tingkat hospitality melebihi rata – rata.

Dengan mudah gw akan bilang terima kasih pada apa saja, bahkan yang kayaknya ga perlu pun, gw akan bilang terima kasih. Apakah ambang terima kasih gw sudah sangat rendah? Atau sudah menjadi kebiasaan? Haha, ga tau. Gw selalu menganggap terima kasih = rasa syukur. Oya, ucapan terimakasih gw ini senada dengan kata – kata “maaf” yang sering gw pake, gw sering ngerasa ga enakan, terutama sama orang baru. *kalau udah lama kenal malah kurang ajar tapinya, haha*. Temen2 bule gw disini suka bilang: “Sorry for what?” atau ” Thank you for what?” atau “I’m the one who should say that!”

Kadang gw suka heran sama orang – orang tertentu yang sulit sekali bilang terima kasih. Padahal bantuan yang sudah diberikan sangatlah tak terkira (bukan masalah materi saja). Misalnya bilang terimakasih hanya disampaikan melalui orang ketiga, atau bahkan tidak pernah menyampaikan apa2. Sampai saya suka bertanya – tanya, untuk apa ada teknologi telepon dan bahkan sekarang hape dan internet yang bisa menghubungkan satu orang dengan orang lainnya secara langsung.

Hmm, gw sedih berhubung ini menimpa keluarga gw, dan bisa dibilang gw turut andil (kalau bukan karena gw, pasti kelurga gw ga ada urusan). Dulu ga pernah gw pikirin, gw terlalu buta, dan sekarang jadi kepikiran. Bingung aja, gimana sih rasanya kalau orang tua sendiri membantu orang lain, tapi (kelihatannya) ga ada itikad baik dari orang yang dibantu. Anehnya lagi, orang tua gw sangat ikhlas, ga pernah mikirin hal kayak gini, sedikit pun. Gw yang selalu punya pikiran picik, malah jadi mikir: semahal itu kah kata “terima kasih” atau semurahan itu kah keluarga gw?

“Kita membantu bukan untuk dibilangin terima kasih, tapi untuk meringankan beban orang lain, urusan terima kasih itu urusan pribadi masing – masing dan Tuhan.”

Yah, mungkin orang yang pernah mendapat bantuan keluarga gw sudah mengungkapkan rasa terima kasihnya lewat orang ketiga, dalam hati atau langsung pada Allah SWT.

Ah, ini harusnya bukan urusan gw lagi. Yang berlalu biarlah berlalu, marilah bersama kita belajar untuk lebih sabar dan ikhlas *gw lagi religius mode on*

*I’ll always pray for both of you, dear parents, thank you for everything*

S2 setelah atau sebelum kerja?

October 21, 2009

Dari dulu gw selalu pengen lanjut s2 begitu lulus s1. Kenyataannya gw sempet kerja setelah lulus apoteker. Usaha mencari sekolah pun sudsh dimulai sejak s1, tapi untuk dapet beasiswa tampak sulit. Rata-rata persyartan beasiswa adalah memiliki pengalaman 2 taun bekerja. Walau ada beberapa yang tidak punya persyaratan tersebut.
Yang gw rasakan saat ini, untuk sekolah s2 di luar negeri memang lebih baik sudah memiliki pengalaman kerja, kecuali kalau punya otak (dan uang) yang cemerlang. Beberapa alasan kenapa gw berpendapat gitu:

  • kalau udah merasakan pengalaman bekerja, jadi lebih tau apa yang diinginkan (jurusan atau spesialisasi)
  • jika bidang master yang dipilih sesuai bidang kerja, tentu saja pengalaman akan sangat membantu dalam proses belajar
  • logikanya saat masuk master kita harus udah tau nanti kita mau punya topik thesis apa, dan kalau sudah bekerja kemungkinan banyak sekali kasus yang sudah pernah ditemui yang bisa diangkat menjadi topik
  • setelah lulus, jika harus mencari kerja (terutama di Indonesia), akan lebih mempunyai value. sejauh yang gw tau, jarang perusahaan di Indonesia yang cari lulusan master dengan pengalaman bekerja yang hampir ga ada (di Indonesia banyak tenaker murah, kalo udah master tapi belum ada pengalaman kan jadi bingung nge-gaji-nya)

Itu secara umum aja ko, berdasarkan apa yang gw rasakan di kelas, dengan kemampuan seperti gw, dan saat harus ngerjain proyek mandiri. Banyak juga temen-temen gw yang langsung s2 ke LN dan sukses – sukses aja tuh (kayaknya sih kuncinya adalah otak cemerlang) ;)

Oya, kasus ini ga berlaku buat orang – orang sini, karena disini pada umumnya mahasiswa setaraf universitas akan mengambil bachelor dan master secara sepaket (kurang lebih lulus dalam 5 taun). Dan tentu saja, perusahaan disini membutuhkan pekerja dengan persyaratan seperti itu.

Pertanyaan selanjutnya, S2 di LN setelah atau sebelum menikah? hahaha.. bukan curcol, tapi setelah ataupun sebelum, dua2nya sama2 butuh pengorbanan ;)

Orang tua

October 12, 2009

I just love my wise and *selalu ikhlas* parents.

Kapan ya bisa menjadi seperti mereka? :)