Archive for August, 2009

Kembali ke Dunia Nyata

August 31, 2009

Liburan gw berlalu begitu saja.. Sekarang sudah kembali ke peradaban Delft. Dengan otak dan jiwa yang masih juga di Bali, hahaha. Setelah mengalami perjalanan yang sangat panjang (bandung-jakarta-dubai-frankfurt-dusseldorf-venlo-breda-zwijndrecht-rotterdam-delft) dengan mengangkut 29 kg koper, sebuah backpack berisi laptop & buku, dan sebuah tas kamera, gw malah jadi ingin malas2an saja di Delft.

Hari ini adalah minggu pertama taun akademik. Kuliah gw tinggal satu dan ternyata dimulai minggu depan. Tapi gw lupa, gw harus mulai mengerjakan proyek yang tertunda karena gw lebih memilih mudik.

Yuks ah, mohon doakan ya agar semangat dan dapat menyelesaikan studi tahun 2010!

Berlari ke Bali

August 16, 2009

Tadinya mau dijudulin “Escape to Bali”, tapi harus mengIndonesia soalnya lagi 17 Agustusan (?!).

Setelah berbagai peringatan flu babi dan ancaman bom, dengan modal kenekatan akhirnya gw memutuskan untuk tetap pergi ke Bali… sendiri. Semuanya berawal dari modal “yang penting gw lari!”. Gw udah ga pake mikir gimana nanti jalan – jalan di Bali, pake mobil atau kendaraan apa dan sama siapa. Pokoknya go show!

Tapi entah mengapa, pelarian gw ini seakan sangat di-ridhoi. Beberapa hari sebelum pergi gw mengirim pesan ke temen (se-SMP & SMA) gw yang kerja di Bali buat minta info atau tebengan, dan dapet. Pada minggu yang sama, sedang ada kongres IPSF yang diadakan oleh junior – junior himpunan gw dan dulu pernah gw aktif hadir saat diselenggarakan di negara lain. Salah seorang teman yang pernah mengetuai organisasi internasional ini, mengajak gw untuk ikut hadir saat weekend. Okei, gw semakin punya tujuan. Yang paling kewl (cool) adalah, sehari sebelum berangkat gw nelepon uwa gw, minta petuah (itinerary) perjalanan di Bali. Uwa gw ini adalah seorang dosen tours and travel di sekolah pariwisata bergengsi di Bandung (cie, bergengsi bo) yang sudah terlalu sering ke Bali. Setelah dibuatkan rencana perjalanan, ternyata beliau dengan inisiatifnya menghubungi seseorang yang dikenal dan mendapatkan sebuah travel yang siap mengantar gw ke mana saja selama hampir 3 hari (thanks to Pegasus travel-Bali, please ask me for contact information :P ).  Jalur konvensional Bali pun gw lalui pada tour days tersebut dengan fasilitas private tour, alias cuma gw sendiri dapet mobil,supir dan bonus guide, sadis, haha.

Hampir setiap sore harinya, gw melakukan perjalanan sendiri dan mencari spot khusus untuk menikmati sunset di sebuah pantai. Terlihat agak menyedihkan tapi gw merasa sangat puas, menikmati waktu gw untuk diri gw sendiri dan “kesendirian” gw.

Pada minggu yang sama itu pula gw bertemu sahabat kuliah gw, yang kebetulan sedang bertugas ke Bali. Wow, indahnya suatu takdir :) Weekend gw di kongres IPSF juga terbilang sangat menyenangkan, bertemu beberapa teman lama dari penjuru negara, bertemu dosen – dosen (finally, haha), adik – adik kelas dan banyak kenalan baru tentunya.

Liburan gw di Bali pun ditutup dengan indah dan rasa tak ingin pulang. Di hari terakhir, gw pergi ke Teluk Benoa buat water sport, sendiri (tentu saja). Digodain dan dikasih nomor telepon mas-mas staf berkulit super hitam pun menjadi konsumsi gw hari itu, haha. Hari yang sangat SERU! Gw pulang ke Bandung pun tak sendiri lagi, tapi bersama 3 orang dosen dan rasanya hari itu banyak sekali obrolan seru dengan beliau – beliau.

Perjalanan ke Bali tanpa partner perjalanan ini memberi banyak kebebasan buat gw untuk mengerjakan apa aja yang gw mau, itulah esensi dari berjalan – jalan sendirian!

Banyak sekali orang yang harus gw beri ucapan terima kasih karena telah membuat Bali-time gw begiu indah. Orang tua, Uwa (walau sedang kurang sehat tapi tetap memikirkan liburan seorang wanita labil seperti gw), Intan (untuk smp sma kita sama ;) ), bung E dan B dari travel (semoga semakin sukseess & bakalan gw iklanin deh), Tir, Au & para junior panitia kongres. Gyaaah kayak penghargaan apa aja nih, tapi seriously gw ngerasa liburan ini sangat berkesan dan banyak banget orang yang mewujudkan keterkesanan ini (ihiy).

Gw setuju dengan apa yang Elizabeth Gilbert bilang dalam bukunya: Eat, Pray and Love… Bali memang tempat yang sempurna untuk orang – orang yang butuh pelarian. Hahaha.

Seat belt and mobile phone

August 11, 2009

Kalau gak salah, teman gw yang rajin pelesiran ini pernah menulis tentang kekesalan serupa, tapi sayang gw belum nemu postingannya. Yup, tentang ketidaktertiban penumpang pesawat akan himbauan dilarang melepas sabuk pengaman dan menyalakan handphone sebelum pesawat benar – benar berenti dan lampu tanda sabuk pengaman dimatikan. At least ini yang gw rasakan saat melakukan penerbangan yang isinya mayoritas orang Indonesia. Saat pesawat mendarat, langsung terdengar bunyi beratus-ratus ‘klik’ secara serempak tanda dilepaskannya sabuk pengaman. Ditambah juga dengan serangkaian bunyi nada dinyalakannya handphone, terutama bunyi Nokia yang begitu familiar dan sekarang bunyi BlackBerry. Ganggu banget.

Di penerbangan dari Bali kemaren, si pramugari sampai keliling buat mengingatkan penumpang untuk tetap mematikan handphone. Dan manusia sipit di sebelah gw yang sudah asik chatting dengan BBnya buru-buru ngumpetin (bukan matiin) BBnya, dan melanjutkan chatting setelah si pramugari lewat. Dan di sebelahnya, ibu2 sipit juga, tetep BB-an dengan semangat. Oh tolonglah, mbak pramugari udah menjelaskan juga kalau handphone menyala tentu saja akan mengganggu arus komunikasi si pilot dengan menara utama. Ah gw yakin kalau terjadi apa2, pasti duo manusia bodoh di sebelah gw ini akan meyalahkan maskapai, bukan diri mereka sendiri.

Mungkin di negara lain -yang agak bodoh- juga begitu ya? Tapi yang pasti, yang gw alami di negara lain ga pernah separah ini, hehehe.