Archive for January, 2009

Are you Chinese?

January 19, 2009

Gw pernah dikira sebagai seorang warga negara Cina oleh salah seorang temen sekelas.

“She is Indonesian? I thought she is Chinese.”

gitu lah kira – kira, lupa gimana persisnya dia bilang ke temen gw.

Ternyata ga banyak yang bisa nebak dari mana gw berasal. Gw inget waktu introduction week, dimana kita harus nebak dari mana temen2 yang lain berasal, saat bagian menebak dari mana gw: semua berpikir cukup keras.

Hari ini, ada seorang mahasiswi warga negara Cina nyamperin gw dan tiba – tiba mengeluarkan suara – suara yang gw kira sebagai bahasa Inggris awalnya, tapi ko gw ga ngerti. Oya, waktu itu keadaan lagi ribut banget, jadi gw kira gw salah denger.

“Sorry????”

Dia masih melanjutkan dan kali ini dia mendekatkan mukanya ke arah gw untuk memperjelas kata – katanya. Gw masih cengo dan berusaha mencerna (oon). Akhirnya dia sadar:

“Ooh, I thought you’re Chinese….”

Ya ampun, bahkan orang asli sana bisa mengira gw berasal dari negaranya? How come?! mata gw segede ini gitu loh. Hehe.

Reportase Jakarta: Poni

January 14, 2009

Kemaren gw sempet chat sama temen gw ini yang baru aja pulang ke Indonesia (izin tayang disini ye riz :P ).

Yang bikin gw ketawa adalah komennya tentang mall – mall yang isinya cewe – cewe dengan style rambut yang sama: poni semua. Hahaha. Sebelum gw berangkat kemari juga, ponirah – ponirah sudah mem-booming sebenarnya. Tapi ternyata boomingnya masih sampai sekarang.

“mirip2 bgt tampangnya”

“terus kerjaannya sibuk ngurusin poni.. ngerapiin poni”

Hihihi. Katanya templatenya sama mulai dari anak SD pun. Gw langsung membayangkan para hairdresser yang semakin ahli memotong poni.

Anyway, gw juga mungkin akan seperti anak gawul jaman sekarang  (poni ala dewi persik atau jupe) kalau rambut gw bisa berponi seperti waktu TK dulu, hihihi.

saat gw tk

Kalau hidup sudah bergantung internet

January 12, 2009

Hari gini gitu loh?! Saat semua akses internet sudah begitu mudah, gw yakin mayoritas manusia di bumi ini udah kenal internet. Minimal pernah denger lah. Hehe, sok meng-generalisir.

Tapi gw ga penah nyangka, kalau hidup gw bakal se-addict ini dengan yang namanya internet. Internet menjadi pusat kehidupan gw saat bangun tidur, sebelum kuliah, istirahat, pulang kuliah dan sebelum tidur. Saat koneksi internet di kamar gw mati, gw akan kelabakan dan bengong mau ngapain (iya gw tau, harusnya bisa gw isi dengan beribadah, hehe). Padahal tugas gw masih banyak yang bisa dikerjain tanpa internet, tapi selalu berasa kurang kalau internet ga nyambung. Bengong di kamar juga sekarang kerasa sepi, mau nonton, ga ada tv, kalau pun ada tv juga ga ada sinetron, heee. Gw merasa hampa banget kalau internet mati (sedikit mendramatisir, tapi seperti itu rasanya kurang lebih).

Sebenernya apa yang gw lakukan sementara ber-internet? Tugas dan belajar hanya beberapa persen deh kayaknya. Sisanya tau sendiri ya, chatting (yaeyalah LDR hidup tanpa chat apa jadinya), facebook (ga tau gimana menghilangkan addict yang satu ini), email, streaming film seri dan blog (walau ga sering).

Selamat dan sukses ya buat temen – temen gw, disini terutama, yang kuat iman bisa matiin internetnya dengan sengaja.

Nephew

January 9, 2009

Terbangun pagi ini, kemudian tersadar.. baru saja mimpiin keponakan gw yang katanya lagi lucu – lucunya.

hamam ardell pratama prabhaswara

ardell

Huhu miss him so much..

*foto ini udah gw print berwarna di perpus, sebesar A8 dan gw pajang di samping jadwal kuliah

Seni musik

January 9, 2009

Ga tau kenapa, tiba – tiba keingetan pelajaran seni musik waktu SMA dulu. Pelajaran paling menyenangkan. Salah satu ujiannya adalah Primavista. Dalam ujian ini para murid dipanggil satu – satu ke meja guru dan memilih sehelai dari beberapa kertas yang posisinya terbalik. Kejutan, di balik tiap kertas tadi tertulis sebaris untaian not angka dimana si murid harus menyanyikan not tersebut di depan sang guru. Seru. Deg – degan dan bingung, takut sumbang, takut salah ambil nada dasar dan takut salah sebut. Ditambah lagi sang guru dengan mukanya yang cukup dingin dan dikenal cukup galak. Awalnya tampak mudah dan simpel. Kenyataannya? ga banyak yang lolos. Heuheu. Lucunya, yang nileinya di atas 6.5 (kalau gak salah) namanya akan disebut dan dipanggil untuk ikut ekskul paduan suara, walau ga wajib.

Oya, si bapak guru pun cukup antik, dengan gaya yang sangat perlente dan tampak sangat berwibawa, akan berjalan masuk kelas dengan membawa gitar dan tak lupa: GARPU TALA. Btw, guru ini juga merangkap guru Fisika, walau gw ga pernah diajar. Di kelas, si bapak membagi kami – kami ini menjadi beberapa suara dan akan bernyanyi bersama dengan alunan gitarnya. Eh ya, sebelumnya tidak lupa: Pemanasan! Gile, seru banget ya. Lebih asik lagi waktu ikutan ekskul paduan suara, gw dapet  ilmu – ilmu menyanyi secara serius (walau udah lupa) dan tentu saja, ga setegang kalau diajar di kelas. Hihi, jadi kangen banget pelajaran seni musik….

Pelit?

January 5, 2009

Katanya orang Belanda pelit. Hihi, ini doktrin yang gw dapet. Sejauh ini, belum terbukti. Malah, gw selalu menemukan mereka – mereka yang begitu baik hati dan jauh dari kata pelit. Beberapa contoh yang gw inget (katanya kebaikan orang itu harus selalu diinget ya, jangan hanya inget kebaikan diri sendiri -ini sombong, hihi-):

  • salah seorang teman sejurusan mengirim berkas – berkas tugasnya yang dia kerjakan tahun lalu, tanpa gw minta (mungkin ini karena kasian melihat gw yang begitu desperate dengan tugas – tugas, haha)
  • salah seorang teman tidak sejurusan yang baru gw kenal, dimana gw mengambil kuliah yang sama, mengirimkan contoh – contoh soal ujian dan tugas dari tahun sebelumnya, juga tanpa diminta
  • karena agak terjebak ikut membantu di hari promosi jurusan, yang mana isinya ternyata dalam bahasa lokal, dosen gw memberi voucher beli buku seharga 15 euro, yeah!! Eh seminggu kemudian, dosen yang lain memberi gw coklat sebagai rasa terima kasih. Ini dia hadiahnya: gifts
  • dosen – dosen yang rasanya  ngasih bonus menulis di ujian gw, hihi, terimakasih ya meneer!

Sebenernya masih banyak kebaikan yang gw terima, yang tentu saja mematahkan teori ke-pelit-an tersebut. Satu yang gw pelajari dan gw rasa harus gw tiru adalah bagaimana cara mereka menghargai orang lain dan juga bagaimana mereka menyampaikan rasa terima kasih. Hmm, semoga yang gw temukan ini adalah mayoritas dan akan selalu gw temukan, hehe.

Papers dan penyesalan

January 2, 2009

Baru minggu lalu gw liburan dan senang – senang, pulang – pulang harus kembali mengerjakan tugas – tugas. Yup, paper – paper yang menuntut gw untuk lebih kreatif dalam berpikir. Sebenernya yang menjadi halangan buat gw adalah masalah bahasa. Susah banget buat gw menyampaikan apa yang ingin disampaikan dalam bahasa Inggris. Belum lagi bahan – bahan yang dibaca sebagai dasar membuat tugas adalah artikel – artikel berbahasa sosial tingkat tinggi yang sangat tidak familiar buat gw. Sudah membaca berkali – kali juga tetap saja sulit mengerti. Kalau udah gini sedih banget rasanya, kenapa kemampuan bahasa Inggris gw begitu dangkal. Tentu saja, keinginan untuk pulang rasanya semakin menjadi – jadi. Huhu gw sering ngerasa nyesel juga. Enakan di indo, ada keluarga dan pacar. Haha.

—gw yang sedang mellow