2 minggu sudah gw resmi jadi Amsterdamer.
Kehilangan Delft? SANGAT. Walau Delft kota kecil, tapi suasananya sungguh Belanda. Tambah betah juga karena lingkungan kampus dan sangat internasional. Bisa ngeceng (mas2 atau pun brondi2) dari seluruh penjuru dunia (terutama karena delft = universitas teknik = jumlah pria (songong) mendominasi jumlah wanita) –> keluar dari topik.
Yang gw kangenin adalah simpelnya hidup di kota kecil. Hidup hanya mengandalkan sepeda kemanapun gw pergi. Kalau sepeda rusak, ya jalan.. walau agak jauh (eh ini ga simpel ya?). Perasaan aman, pulang jam 2 atau jam 4 pagi juga ga pernah kuatir. Juga pemenuhan kebutuhan perbelanjaan yang dipenuhi di satu ‘centrum’ kecil.
Butuh lebih banyak pertokoan dan ‘retail therapy’? tinggal naik sepeda, lanjut kereta, 15 – 20 menit, sampailah di Den Haag, atau Rotterdam. Butuh lebih banyak hiburan atau mau G4UL? Kota yang kedua itu terkenal akan hiburannya, atau bisa menuju Leiden yang bisa ditempuh hanya dengan 30 menit. Strategis. Itu kata yang tepat buat kota kecil tempat gw sekolah ini.
Sebenernya yang paling berat buat gw saat ini adalah faktor pertemanan. Secara semua temen deket gw ya hampir semuanya di Delft. Walau perlahan mereka akan juga menyebar keluar kota itu, atau gw ga setiap hari ketemu, tapi perasaannya beda aja.
Sepasang sahabat terdeket gw yang bukan orang indo pun tinggal di Delft. Hari gw pindah, pasangan ini bantuin gw pindahan. Malemnya, gw yang merasa bodoh karena merasa mellow mendapat telepon dari sahabat gw ini. Ternyata dia merasakan hal yang sama. Kita tau, akan susah banget sekarang kalau mau bikin acara malem dadakan, walau cuma sekedar curcol pulang kantor. Damn, semakin membuat gw tambah sedih.
Seminggu pertama, gw masih belum bisa adaptasi. Weekend pertama pun gw MUDIK. Saat minggu kedua gw dapet ajakan buat merayakan ester bersama di desa, gw mikir 10 kali, karena gw ga mau membiasakan diri gw pergi ke sana tiap minggu. Tapi tetep aja, hari Sabtu maupun hari Minggu, gw pergi ke daerah selatan sama genggong Delft juga. Yah, sukses ga mudik sih, tapi malemnya malah ngerasa nyesel, pengen menghabiskan waktu disana.
Hmmm gw kira minggu kedua ini akan lebih mudah, secara gw udah ikut pergi2 sama temen kantor, housemate, maupun menerima ajakan tetangga. Tapi ternyata masih belum cukup membuat gw ngerasa betah.
Apakah ini masalah umur? Maksudnya, sekarang ini gw sedang dalam fase ‘malasmencaritemanbarukarenatidakgampangmenemukanyangcocok’. Yes, gw anggap ini adalah another tantangan hidup. Ini kan yang gw mau? Hidup yang dinamis dan menantang?